Headlines News :
Home » , » Pemilukada Deli Serdang Momentum Menakar Iman dan Takwa | Dr. H. Hariyanto, Lc, MA

Pemilukada Deli Serdang Momentum Menakar Iman dan Takwa | Dr. H. Hariyanto, Lc, MA

Written By PKS Deli Serdang on Kamis, 12 September 2013 | 9/12/2013

 











Dr. H. Hariyanto, Lc, MA
Deputi Manhaj & Al Qur’an Bidang Kaderisasi 
DPW PKS Sumatera Utara

  
        Ketika genderang perang Tabuk ditabuh. Jiwa-jiwa yang merindukan surga melompat berlarian. Masing-masing berlomba memberikan kontribusi terbaik yang dimiliki. Yang pertama hadir dihadapan Rasulullah saw Abu Bakar. Walaupun harta yang ia miliki tak seberapa jumlahnya dibanding para sahabat milyuner lainnya, empat ribu dirham saja. Namun, hanya itu lah harta yang ia miliki saat itu. Tanpa ragu ia sumbangkan semua hartanya tersebut ke qiyadah dakwah; Rasulullah saw. Mantap lisannya menjawab: “Allah dan Rasul-Nya aku tinggalkan untuk keluargaku” pada saat sang qiayadah menyapanya: “adakah yang kamu sisakan untuk keluargamu?”. 

  Umar terperangah. Ternyata ia tidak hanya kedahuluan oleh Abu Bakar. Tapi ia juga kalah totalitas dalam tadhiyah. “Setiap ada momen berlomba dalam kebaikan maka kami selalu menemukan Abu Bakar yang pertama di situ” kata Umar salut pada semangat Abu bakar. Abbas bin Abdul Muthollib  datang membawa hartanya. Tolhah bin Abdillah pun tidak ingin ketinggalan. 

  Lain lagi sahabat yang dikenal dengan sangat pemalu ; Usman bin Affan. Kali ini ia menemukan kesempatan untuk menunjukkan bahwa cintanya kepada Allah dan Rasul jauh lebih besar dari kecintaannya pada harta. Subhanallah … sepertiga dari semua kebutuhan prajurit sejak awal sampai usai pertempuran ia yang menanggungnya. Rasulullah pun kemudian memberikan kesaksiannya akan kedermawanan itu: “Apa pun yang dilakukan Usman setelah yang ia lakukan hari ini tidak akan memberikan mudharat padanya”. Artinya Usman bin Affan hari itu mendapat jaminan dari Rasulullah bahwa ia penghuni surga.

  Bagaimanakah kiprah para sahabiyat? Ummu Sinan al Aslamiah menceritakan: “Sungguh, aku melihat sendiri, sebuah baju terbentang di hadapan Rasulullah di rumah Aisyah. Di situ ada gelang, kalung, cincin, berbagai jenis perhiasaan dan barang-barang berharga. Itu semua terkumpul dari para wanita untuk membantu para mujahidin fi sabilillah”. 

  Orang yang imannya sedang sakit, ketiadaan harta bisa jadi alasan atas tidak optimal perannya dalam perjuangan. Tapi tidak demikian halnya bagi para pejuang sejati. Abdurahman bin Ka’ab dan Abdullah bin Maghfal, adalah contoh dari sekian banyak mereka yang iman dan semangat perjuangannya selalu menggelora. Walaupun kemiskinan menerpa hidup mereka. Tangisan sedih keduanya karena tidak diizinkan Rasulullah ikut dalam jihad disebabkan tidak memiliki bekal dan kendaraan terhenti seketika, kebahagian membuncah dalam dada, ketika Yamin bin Amru memberi unta sebagai tunggangan ditambah sedikit perbekalan untuk mereka berdua.

  Lebih heroik lagi apa yang dilakukan seorang sahabat; ‘Ulbah bin Zaid. Setelah bekerja keras mencari kendaraan dan perbekalan, namun tidak juga ia dapatkan. Dengan penuh linangan air mata ia angkat tangannya. Ia bermunajat pada Penguasa Jagad Raya: “Ya Allah, Engkau perintahkan jihad, Engkau semangati kami untuk berjihad, tapi ya Allah.. Aku tidak punya apa-apa untuk dijadikan bekal dan kendaraan, Rasul Mu pun tidak mempunyai sesuatu yang bisa diberikannya kepada ku untuk berjihad. Ya Allah … untuk perjuangan ini aku berinfak dengan pahala atas aku memaafkan seluruh kejaliman yang orang muslim lakukan pada diri, harta dan kehormatanku”.

      Tahukah anda apa yang terjadi berikutnya? Usai mengimami sholat subuh pagi itu Rasulullah langsung berdiri. “siapa yang tadi malam berinfak kepada Allah?”. Hening, senyap, tidak ada jawaban. Pertanyaan itu pun diulang sekali lagi oleh Rasulullah. Dengan malu-malu kemudian ‘Ulbah mengangkat tangan, “Saya ya Rasulullah”. “Apa yang telah kamu infakkan wahai ‘Ulbah?” Ulbah menjawab: “Aku berinfak dengan pahala atas kemaafanku pada seluruh kejaliman yang orang muslim lakukan pada diri, harta dan kehormatanku”. Rasul berkata: “Bergembiralah wahai ‘Ulbah, demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sungguh engkau telah dicatat dalam kelompok orang-orang yang infaknya diterima Allah swt”.

  Subhanallah… ternyata pada saat ‘Ulbah bermunajat dalam sholat malamnya Allah mengutus malaikat Jibril menyampaikan pesan yang menenangkan hati ‘Ulbah ke Rasulullah saw. Inginkah anda seperti ‘Ulbah bin Zaid?

  Ternyata, tidak semua perjuangan menyimpan cerita manis bagi generasi berikutnya. Ada cerita ketidak seriusan kader seperti yang dilakukan sahabat Ka’ab bin Malik beserta dua sahabat lainnya. Bahkan kisah penghianatan dalam perjuangan ikut menambah seru peperangan ini. Tengok saja apa yang dilakukan barisan munafikin. Sekelompok orang yang dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul melakukan makar. Dipertengahan jalan mereka membelot. Mereka menyangka dengan pembelotan tersebut Rasulullah akan kalah. 

  Untuk orang seperti mereka ini Allah swt turunkan firmannya: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. At Taubah: 40).

  Ikhwati dan akhwati fillah.. Pilkada atau pemilu bagi partai dakwah tidak hanya bermakna sebatas momentum pergantian pemimpin lima tahun sekali. Lebih dari itu, ia adalah peluang untuk beramal mengembalikan kejayaan Islam pada porosnya. Sebuah medan jihad dalam rangka mewujudkan firman Allah: “Menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah, dan kalimat Allah itulah yang tinggi”. Sebuah tugas dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar melalui sarana kekuasaan. Dan sebuah perjuangan untuk menyelamatkan asset umat agar dikelola secara proporsional pada kemaslahatan umat." Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan …” (QS. An Nisa: 5).

  Karenanya, tidak berlebihan apabila penulis menyatakan ‘genderang perang’ di bumi Deli Serdang sudah ditabuh kencang. Peristiwa perang Tabuk yang diceritakan di atas bisa menjadi acuan neraca iman dan takwa.  cerminan dimana sebenarnya posisi kita sebagai aktivis harokah Islamiah dalam peperangan ini. Akankah kita masuk dalam golongan seperti sahabat yang berlomba-lomba dalam kebaikan. Atau justeru jatuh dalam kelompok yang bermalas-malasan. Bahkan nauzubillah kalau ikut terhempas kedalam palung yang teramat dalam bersama gerombolan yang melakukan makar pembelotan. Tentunya, hanya Allah swt yang menjadi saksi atas posisi itu semua. Karena hanya Dia lah yang Maha Mengetahui secara rinci segala yang tersirat ataupun tersurat.

“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At aubah: 105).

Wallohu a’alam bis showab.

Share this article :

0 komentar :

 
PKS Deli Serdang - Theme by Maskolis - Edited by MSt