Headlines News :
Home » , , » Ramadhan Bulan Reformasi | "Sebuah Persiapan Jauh Hari untuk Perhelatan Akbar nan Suci"

Ramadhan Bulan Reformasi | "Sebuah Persiapan Jauh Hari untuk Perhelatan Akbar nan Suci"

Written By PKS Deli Serdang on Senin, 15 April 2013 | 4/15/2013

Oleh : Abdul Latif Khan



















Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan bathil). Karena itu barangsiapa diantara kamu yang hadir dalam bulan itu, maka hendaklah berpuasa. Dan barangsiapa yang sakit atau sedang dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu – Al Baqarah : 185

Dari Salman ia berkata, “Pada akhir bulan Sya’ban Rasulullah berkhutbah kepada kami yang sabdanya:

“Wahai manusia sungguh telah dekat kepadamu bulan yang agung lagi penuh berkah, bulan yang didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang didalamnya Allah telah menjadikan shoum sebagai fardhu dan bangun malam sebagai sunnat. Barangsiapa yang mendekatkan diri kepadanya dengan beramal sunnat , maka pahalanya sama dengan orang yang beramal fardhu. Dan barangsiapa yang beramal fardhu di dalamnya, maka pahalanya sama seperti orang yang melakukan 70 amalan fardhu pada bulan lainnya.

Inilah bulan kesabaran dan pahala kesabaran adalah syurga, inilah bulan kasih sayang, bulan saat rezeki orang mukmin ditambah. Barangsiapa memberikan pebukaan kepada orang yang berpuasa dibulan itu, maka menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan memperoleh pahala yang sama tanpa sedikitpun mengurangi mengurangi pahal orang itu. maka mereka berkata, ‘Ya Rasulullah, tidak setiap kami memiliki makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa’. Rasulullah menjawab, ‘Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi buka walau dengan sebutir kurma, seteguk air atau sesisip susu. Inilah bulan yang awalnya penuh rahmat, tengahnya ampunan dan akhirnya merupakan kebebasan dari api neraka. Perbanyaklah empat amalan di bulan itu, dua diantaranya dapat menyenangkan Tuhannya dan dua lainnya kamu pasti memerlukannya.

Adapun dua perkara yang kamu dengannya dapat menyenangkan Tuhanmu ialah memperbanyak ucapan Laa Ilahaa Ilallah dan memperbanyak istighfar. Sedangkan dua perkara yang kamu pasti membutuhkannya adalah hendaklah banyak meminta agar kamu dimasukkan ke dalam syurga dan mintalah perlindungan dari api neraka. Barangsiapa memberikan minum kepada orang yang berbuka, maka Allah akan memberinya seteguk air dari telaga yang ia tidak akan pernah haus sampai masuk syurga” (HR Ibnu Khuzamah, Baihaqi dan Ibnu Hibban)

Cobalah kita perhatikan khutbah itu. Ia disampaikan oleh seseorang yang paling dihormati, paling dicintai dan paling didengar sabdanya. Beliau bukanlah tokoh yang mencapai derejat ketokohannya tidak hanya dengan kemampuan beretorika belaka, namun juga kebersihan akhlaqnya. Isterinya saja pun memberikan kesaksian bahwa akhlaknya adalah al Quran .

Jika sang pengkhutbah adalah manusia dengan segala keutamaan seperti itu, maka yang mendengar khutbahnya adalah yang dikenal sebagai generasi terbaik. Mereka adalah manusia-manusia unik dengan segala keutamaan akhlaq. Mereka adalah orang yang sangat mencintai hidup tapi juga luar biasa kerinduannya kepada mati syahid.

Apa yang dapat anda bayangkan jika seseorang pemimpin yang dicintai dan dihormati itu mengucapkan sesuatu kepada umatnya? Ucapan itu akan berubah menjadi energi dahsyat yang mengalir ke seluruh ruang pemikiran mereka. Tidak satu patah katapun mereka biarkan berlalu tanpa memahami serta menjadwal rencana amal yang akan mereka lakukan. Wajarlah jika kemudian setiap Ramadhan datang mereka teringat kembali akan sabda Rasul yang sangat meresap itu. Umar selalu dikabarkan berurai air mata setiap akhir bulan Sya’ban. Demikian juga dengan Ali bin Abi Thalib. Bagaimana dengan kita?

Dengan jumlah penduduk yang 87% beragama Islam, aura Ramadhan seharusnya sudah harus dapat dirasakan di bulan Sya'ban. Namun faktanya mukmin Indonesia harus mengeluarkan sedikit energi ekstra guna mengingatkan kembali tentang keutamaan Ramadhan. Pornografi masih merupakan kebiasaan buruk yang akut, kehidupan malam dan gaya hidup hedonistik seperti akan tetap berlaku mulus selama Ramadhan. Untuk kalangan pekerja, Ramadhan dijadikan sebagai alasan untuk menurunkan etos kerja mereka. Padahal di masa Nabi Saw, banyak pekerjaan berat yang masih saja mereka lakukan walau dalam kondisi tetap berpuasa.

Beberapa pejabat negeri ini sudah berkumpul guna memikirkan bagaimana menghormati Ramadhan. Hasilnya hanyalah himbauan agar praktek hiburan malam dan pornografi tidak beroperasi selama Ramadhan. Sebuah imbauan yang sama tidak berwibawanya dengan jika dikeluarkan oleh sekelompok remaja masjid dari dusun terpencil. Boleh jadi ini hanyalah instruksi karena menghargai kebebasan Hak Asasi Manusia yang harus lebih diperjuangkan daripada menghormati Ramadhan. Kebebasan bangsa ini tidak boleh ditindas. Kebebasan sering disalah artikan sebagai bebas menjadi manusia atau binatang, bebas berakhlaq luhur atau kurang ajar, bebas untuk jujur atau menjadi penipu. Sebuah kebebasan yang tanpa patokan nilai yang jelas.

Agar khutbah Rasulullah menjadi berwibawa memang harus harus dilakukan beberapa hal. Diantaranya adalah mensosialisasikan secara terus-menerus ajaran Islam yang benar dan bersih, serta mengaplikasikan seluruh kebaikan Islam di segala sisinya.

Menjadwal Agenda Reformasi

Reformasi yang dimaksudkan di sini dimulai dari reformasi diri, keluarga, masyarakat dan kehidupan bernegara. Dan semua ini dapat dilakukan di bulan Ramadhan. Ada satu warning yang diberikan Rasulullah kepada kita yaitu “berapa orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus”. Hadist ini ingin menunjukkan betapa sebenarnya banyak kaum muslimin yang mengawali dan mengakhiri Ramadhan tanpa adanya satu perubahan apapun. Sorang muslim seharusnya mengubah persepsinya tentang Ramadhan. Ia harus bersikap lebih positif dan merencanakan beberapa perubahan yang mungkin dilakukannya di setiap bulan Ramadhan. Jika tidak, maka selamanya ia tidak akan pernah dapat berubah. Dan bahayanya umat Islam aka terjebak menjadikan Ramadhan sebagai ritualitas tahunan yang penuh kemeriahan belaka.

Umat Islam harus mereformasi diri. Mereka adalah umat yang memiliki segala keutamaan agama, namun sekarang berada dalam titik nadir kejayaan mereka. Mereka harus segera merubah visi beragama mereka dari sekadar meraih syurga, menjadi sarana meraih kejayaan dunia dan akhirat. Bahkan akhirat tidak mungkin didapat tanpa mengoptimalkan dunia.

Agenda reformasi seperti apa yang dapat dilakukan di bulan Ramadhan adalah sebagai berikut:

1.   Reformasi diri dalam ibadah. Ibarat ikan yang selama ini berada ini berada dalam aquarium dan dikembalikan ke habitatnya, tentu saja ikan itu akan mengalami kebahagiaan yang tiada tara. Seperti itulah keadaan umat Islam di bulan Ramadhan. Mereka diberikan kesempatan beribadah sepuas-puasnya dengan ganjaran yang berlipatganda. Umat Islam harus menjadi mania-ibadah” yang berprinsip ‘tiada boleh ada satu detik pun berlalu tanpa ibadah’. Dan peluang itu akan dapat mereka peroleh jika mereka sadar, karena Allah juga telah menjanjikan ‘tidur orang berpuasa adalah ibadah’. Menjadikan seluruh detik kehidupan sebagai ibadah adalah satu keniscayaan jika umat muslim sadar makna ibadah. Mereka disebut beribadah jika seluruh potensi fitrah mereka ditundukkan hanya kepada Allah.

2.   Reformasi diri dalam jihad. Ramadhan adalah bulan mujahadah, bulan dimana segala kehormatan mukmin dipertaruhkan. Bulan Ramadhan seharusnya keyakinan umat terhadap Tuhannya makin meninggi. Bulan yang seharusnya mereka tidak perlu ragu untuk membantu menegakkan agama Allah. Di bulan selain Ramadhan saja jihad adalah amalan utama, maka sangat mengherankan jika di bulan Ramadhan etos kerja umat malah melemah. Dengan demikian umat perlu mereformasi diri dalam jihad. Mereka harus dekat dengan isu jihad. Mereka harus menjadikan jihad sebagai sama pentingnya dengan sholat dan puasa. Jihad dengan jiwa berarti melakukan kesungguhan dalam beribadah, jihad dengan harta ditandai dengan kedermawanan jika harta mereka dibutuhkan oleh Islam. Memang kita perlu kembali menelaah pengertian jihad yang benar. Karena makna jihad sekarang ini telah disalah artikan menjadi demikian sempitnya. Jihad adalah upaya maksimal yang dilakukan oleh seorang mukmin guna memperoleh ridho Allah.

3.   Reformasi diri dengan tarbiyah. Banyak agenda umat yang terbengkalai oleh karena mereka tidak memiliki kemampuan tarbiyah. Ada ulama yang ceramahnya mengundang perhatian ribuan orang. Alih-alih ia melakukan pembinaan, mereka malah terjebak dalam komersialisasi diri.

Wajar jika kemudian walau sudah puluhan tahun belajar shalat tahajjud, umat belum mampu menjadwalkan tahajjudnya. Oleh karena itu penting sekali mengajak umat melakukan tarbiyah dalam segala hal. Mereka memang harus tahu banyak masalah yang harus diselesaikan, namun harus fokus dimana harus memulai.

Jika setiap umat memiliki agenda reformasi yang jelas, maka bukan tidak mungkin Ramadhan kali ini adalah letupan pertama kebangkitan kesadaran umat Islam. Dan orang yang sadar akan agenda Ramadhan itu adalah orang yang layak meresapkan khutbah nabi saw dan mengucapkan “marhaba ya Sayyidul Syuhur, marhaba ya Syahrul Jihad, marhaba ya Syahrul Shiam.


Share this article :

0 komentar :

 
PKS Deli Serdang - Theme by Maskolis - Edited by DWM